Wednesday, 26 December 2012

Bersyukur atas karunia-karunia kecil

Emang ya, kalau segala hal yang kita nikmati sehari-hari kita anggap biasa aja, jadi lupa bersyukur. Coba kalau mau diabsen, gak usah banyak-banyak, sebutkan 10 hal aja yang kita syukuri setiap hari. Gampang? Susah? Menurut saya, sangat tergantung dari cara pandang kita.
Saya sendiri pernah mengalaminya ketika 4 minggu masa pemulihan dari operasi. Waktu itu, badan saya harus pakai semacam ‘kemben’ setiap hari supaya bekas operasi tidak kena air dan bisa kembali seperti semula. Then, banyak sekali rutinitas sehari-hari – yang dulunya tidak terpikirkan bahwa bisa disyukuri – yang tidak bisa dilakukan seperti biasa.
Mulai dari bernafas. Biasanya bisa bernafas dengan normal. Ketika pakai kemben yang sengaja dililitkan agak kencang itu, nafas tidak bisa panjang. Tarik sedikit, buang, tarik sedikit, buang. Efeknya jadi tidak berani jalan cepat-cepat apalagi lari. Selain membuat bekas operasinya jadi perih, juga karena takut ngos-ngosan karena susah bernafas.
Yang kedua, posisi tidur. Biasanya bisa tidur telentang, miring, tengkurap, sesuai nyamannya saja yang membuat tidur nyenyak. Waktu masa pemulihan, tidak ada pilihan posisi tidur. Hanya telentang, saja. Memeluk guling pun tidak bisa. Efeknya jadi sering terbangun malam hari mengingatkan diri sendiri untuk tidak ganti posisi, menjaga badan supaya tetap telentang.
Yang ketiga, mandi. Biasanya air disiram ke seluruh badan. Waktu pemulihan, tidak bisa siram air sembarangan, bisanya mandi pakai washlap yang sudah dibasahi air hangat. Setiap hari. Kadang-kadang mandi harus dibantu Ibu saya untuk menjangkau bagian punggung yang susah digapai tangan sendiri. Lebih repot lagi kalau mau keramas. Biasanya bisa keramas sekalian mandi. Waktu pemulihan, keramas paling nyaman adalah di salon supaya bagian kepalanya saja yang basah. Efeknya, money comes out sesuai jadwal keramas karena musti ke salon.
Yang keempat, pemilihan pakaian. Tidak semua pakaian bisa saya pakai waktu masa pemulihan. Kaos-kaos yang pas badan jadi tidak nyaman dipakai karena membuat lebih mudah berkeringat akibat harus selalu pakai kemben yang lumayan tebal. Jadi, tingkat kemodisan berkurang karena hanya bisa pakai baju-baju model ‘gombrong’.
Setelah melewati masa pemulihan, saya disadarkan bahwa saya bisa melakukan rutinitas saya lagi setelah sekitar 4 minggu mengalami seperti yang saya ceritakan di atas. Senang dan bersyukur sekali rasanya. Saya jadi sangat menikmati bernafas panjang, tidur gonta-ganti posisi sehingga lebih nyenyak, mandi puas plus keramas sendiri di rumah, dan memilih pakaian apa saja sesuai event dan keinginan hati.
Bersyukur itu tidak perlu menunggu sesuatu yang besar terjadi datang ke hidup kita bagai mendapatkan durian runtuh. Karunia-karunia kecil yang Tuhan berikan setiap hari sudah bisa membuat kita bersyukur luar biasa.

No comments:

Post a Comment