Sharing is not as difficult as it seems :)
Thursday, 1 May 2014
Paskah Danone 2014: Ulasan Renungan Pdt. Irene Parhimpunan
Hari Jumat 25 April saya bersyukur sekali bisa datang ibadah Paskah Danone di Cyber 2 Tower, yang dilayankan Pdt. Irene Parhimpunan. Gaya bicara ibu Pendeta yang ringan dan tidak menggurui membuat saya bersimpati. Isi khotbahnya pun menarik. Berikut kira-kira ulasannya:
Kalau ditanya peristiwa apa yang yang Anda ingat ketika Paskah? Mungkin jawaban sebagian besar adalah peristiwa Tuhan Yesus disalib, mati, dan bangkit lagi. Memang itu benar, tapi bagi saya peristiwa yang paling krusial adalah ketika Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani. Tuhan Yesus saat itu sedang "galau-galaunya". Ia berdoa hal yang sama tiga kali, berharap cawan pahit itu lalu dari pada-Nya.
Pesan Paskah pertama yang mau saya sampaikan adalah: Ia mengingatkan murid-muridNya untuk tetap berdoa dan berjaga-jaga. Pernah gak saudara mendoakan hal yang sama berulang-ulang. Yesus saja melakukannya, apalagi kita, juga harus melakukan. Pray until something happen, menurut saya itu ungkapan yang benar sekali. Berdoa tidak harus dalam posisi berdoa, tapi kita bisa melakukannya di mana saja, ketika bekerja, ketika di kendaraan, karena kita tidak pernah tahu cobaan apa yang ada di depan kita setiap waktu. Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Mungkin pikiran kita baik, tapi yang kita lakukan belum tentu. Lawan kita bukan main-main loh saudara, iblis yang ribuan tahun umurnya. Dia punya segala cara, jadi kalau kita tidak berjaga-jaga, pasti kita mudah sekali jatuh. Berapa lama Yesus berpuasa sebelum hari penyalibannya datang? 40 hari, saudara. Selama itu pula Ia digodai iblis, bukan kadang2, tetapi setiap hari. Tetapi Ia bs melakukannya, karena Ia berjaga2.
Tuhan Yesus bisa saja mundur lho waktu itu, saudara. Ia mungkin saja beralasan: "ah, Saya sudah banyak melakukan perintah Bapa di dunia ini. Saya sudah mengajar banyak orang, menyembuhkan orang sakit. Sampai sini saja ya, Bapa?" Tapi Ia tetap mengikuti rencana Bapa. Ini pesan Paskah kedua yang mau saya sampaikan. Lihatlah rencana Allah dalam setiap yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan Yesus bisa menyapa Yudas dengan sebutan "Hai teman" ketika murid-Nya itu datang bersama prajurit untuk menangkap-Nya. Ia rela ditangkap, mengikuti rencana Allah. Percayalah saudara, segala hal yg tidak sesuai harapan kita, ada rencana Tuhan di balik itu semua. Saya teringat ttg kasus pelecehan seksual seorang anak di JIS. Di internet saya membaca sebuah surat yg dibuat seorang ibu untuk anak korban itu. Kira-kira isinya: AK, menurut saya kamu lebih hebat dari Captain America, karena dengan keberanianmu dan mamamu, kamu sudah mengajarkan banyak ibu lain untuk memberikan waktu lebih bnyk kepada anak2nya, bukannya memberikan uang. Kamu memang korban, tapi bagi saya kamu pahlawan. Terima kasih, AK. Saya terharu membaca surat itu. Mungkin bagi sang korban, ia tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi padanya. Tetapi ia telah mengubahkan hidup banyak orang tua yg mendengar berita itu.
Pesan Paskah ketiga, diambil dari ketika Tuhan Yesus sudah mau mati di kayu salib, ia berkata: Sudah selesai. Saya bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Yesus saat itu karena sudah menggenapkan rencana Bapa sampai tuntas. Mungkin rasanya seperti ketika kita sudah hampir jam 5, menuju jam pulang kantor, pasti rasanya senang sekali ya Bapak Ibu. Inilah pesan Paskah yang mau saya sampaikan: tetaplah setia. Mungkin bnyk hal yg membuat kita jatuh, tetapi belajarlah untuk tetap setia, seperti Yesus yang setia sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Ada sebuah analogi yg menarik: seorang penjaga tempat pemancingan sering memperhatikan seorang Bapak yang selalu mendapat banyak sekali ikan ketika memancing, beda dengan pemancing-pemancing lainnya. Suatu hari penjaga meminta, "Pak, saya penasaran bagaimana caranya Bapak bisa menangkap ikan sebanyak itu. Boleh saya ikut Bapak memancing?" Jawab si pemancing: "Oh boleh, silahkan." Sampai di tengah danau, pemancing itu mengeluarkan granat, mengaktifkannya, dan melemparkan ke danau. Seketika banyak ikan mati mengapung, sehingga dengan mudah pemancing itu menebar jala dan menangkap ikan-ikan. Penjaga terkejut melihat perlakuan yang salah itu. Ia mengingatkan: "Pak, Anda tidak boleh melakukan itu!" Jawab pemancing: "Ah, Anda ikuti saja cara saya". Ia lalu mengambil granat lainnya, mengaktifkannya, dan melempar ke arah penjaga itu. Penjaga yang panik memegang granat yang sudah aktif itu, lalu melemparkannya juga ke danau. Ia yang semula mengatakan itu salah, akhirnya juga melakukan yang salah. Saudara, mungkin bnyk kejadian sehari-hari yang membuat kita merasa kepepet. Tapi belajarlah untuk tenang, dan tetap setia melakukan yang berkenan kepada Allah. Bagaimana caranya? Berdoalah sebelum bersikap, maka Anda tidak mudah terjatuh.
Sekiranya cukup sekian pesan Paskah untuk kita semua, berjaga2 dan berdoalah, lihat rencana Allah dalam setiap kejadian, dan tetaplah setia kepada-Nya.
Wednesday, 26 December 2012
Bersyukur atas karunia-karunia kecil
Emang ya,
kalau segala hal yang kita nikmati sehari-hari kita anggap biasa aja, jadi lupa
bersyukur. Coba kalau mau diabsen, gak usah banyak-banyak, sebutkan 10 hal aja
yang kita syukuri setiap hari. Gampang? Susah? Menurut saya, sangat tergantung
dari cara pandang kita.
Saya sendiri
pernah mengalaminya ketika 4 minggu masa pemulihan dari operasi. Waktu itu,
badan saya harus pakai semacam ‘kemben’ setiap hari supaya bekas operasi tidak
kena air dan bisa kembali seperti semula. Then,
banyak sekali rutinitas sehari-hari – yang dulunya tidak terpikirkan bahwa bisa
disyukuri – yang tidak bisa dilakukan seperti biasa.
Mulai dari
bernafas. Biasanya bisa bernafas dengan normal. Ketika pakai kemben yang
sengaja dililitkan agak kencang itu, nafas tidak bisa panjang. Tarik sedikit,
buang, tarik sedikit, buang. Efeknya jadi tidak berani jalan cepat-cepat
apalagi lari. Selain membuat bekas operasinya jadi perih, juga karena takut ngos-ngosan karena susah bernafas.
Yang kedua,
posisi tidur. Biasanya bisa tidur telentang, miring, tengkurap, sesuai nyamannya
saja yang membuat tidur nyenyak. Waktu masa pemulihan, tidak ada pilihan posisi
tidur. Hanya telentang, saja. Memeluk guling pun tidak bisa. Efeknya jadi
sering terbangun malam hari mengingatkan diri sendiri untuk tidak ganti posisi,
menjaga badan supaya tetap telentang.
Yang ketiga,
mandi. Biasanya air disiram ke seluruh badan. Waktu pemulihan, tidak bisa siram
air sembarangan, bisanya mandi pakai washlap yang sudah dibasahi air hangat.
Setiap hari. Kadang-kadang mandi harus dibantu Ibu saya untuk menjangkau bagian
punggung yang susah digapai tangan sendiri. Lebih repot lagi kalau mau keramas.
Biasanya bisa keramas sekalian mandi. Waktu pemulihan, keramas paling nyaman
adalah di salon supaya bagian kepalanya saja yang basah. Efeknya, money comes out sesuai jadwal keramas
karena musti ke salon.
Yang keempat,
pemilihan pakaian. Tidak semua pakaian bisa saya pakai waktu masa pemulihan.
Kaos-kaos yang pas badan jadi tidak nyaman dipakai karena membuat lebih mudah
berkeringat akibat harus selalu pakai kemben yang lumayan tebal. Jadi, tingkat
kemodisan berkurang karena hanya bisa pakai baju-baju model ‘gombrong’.
Setelah
melewati masa pemulihan, saya disadarkan bahwa saya bisa melakukan rutinitas
saya lagi setelah sekitar 4 minggu mengalami seperti yang saya ceritakan di
atas. Senang dan bersyukur sekali rasanya. Saya jadi sangat menikmati bernafas
panjang, tidur gonta-ganti posisi sehingga lebih nyenyak, mandi puas plus
keramas sendiri di rumah, dan memilih pakaian apa saja sesuai event dan
keinginan hati.
Bersyukur itu tidak perlu menunggu sesuatu yang
besar terjadi datang ke hidup kita bagai mendapatkan durian runtuh.
Karunia-karunia kecil yang Tuhan berikan setiap hari sudah bisa membuat kita
bersyukur luar biasa.
Tuesday, 25 December 2012
Be humble or be humbled
Beberapa hari
yang lalu adalah masa-masa penilaian kerja tahunan di tempat saya bekerja.
Setiap anak buah mendapat kesempatan untuk diskusi dengan atasan masing-masing,
membahas kinerja anak buah selama setahun. Begitu juga dengan saya. Saya tidak
akan menceritakan detail isi diskusi kami. Saya mau fokus ke satu value yang
bos saya ajarkan ke saya. Attitude.
Satu
kalimatnya yang saya ingat, “Mau sepinter-pinternya orang, kalau attitude-nya
nggak baik, itu akan jadi nila setitik buat dia.” Bos saya bilang begitu ketika
kami membahas salah seorang rekan kerja yang sudah cukup berpengalaman dan
berwawasan, orang yang saya kagumi karena banyak banget pengetahuannya. Namun
sayangnya, rekan saya ini cenderung menjadi merasa paling tahu sehingga sulit menerima
ide/usulan baru yang beda sama pendapatnya. Lebih disayangkan lagi, beliau
memberi pengaruh negatif ke orang lain dengan mencela sistem baru yang kami
semua hasilkan. Padahal seharusnya kami-kami inilah agent of change-nya.
Ya, memang
waktu itu kita sedang bahas orang lain. Tapi, something changes my mind.
Kata-kata itu saya ingat terus supaya nggak terjadi juga dalam kehidupan saya.
Attitude sombong atau angkuh itu gampang banget dilakukannya. Bahkan, kalau
kita sedang merasa di atas angin, tanpa kita sadari kita jadi sombong. Merasa
semuanya bisa kita atasi. Well, saya sering juga mengalami ini. Senang benar
rasanya ketika jadi yang paling tahu. Terbukti dengan kemampuan saya untuk bisa
menyelesaikan berbagai case, terbukti juga dengan kemampuan saya menjawab
pertanyaan dari rekan lain.
Setiap saya
merasa ‘di atas’, saat itulah Tuhan selalu mengingatkan saya lewat berbagai
cara. Banyak contohnya. Misalnya waktu sekolah dulu. Saya suka sekali pelajaran
matematika. Karena itulah, beberapa kali nilai saya lebih baik dibanding
teman-teman sekelas. Lagi ngerasa sombong-sombongnya, ternyata pada suatu ujian
ada teman saya yang nilainya lebih bagus. Rasanya seperti dijatuhkan ke jurang
karena sombongnya saya membuat saya jadi malas belajar.
Saya bersyukur
waktu jaman kelas 3 sma dulu, saya dapat kesempatan satu kelas dengan banyak
teman yang pintar. Saya diajarkan untuk rendah hati dan gak malu bertanya ke
teman tentang suatu tugas kalau memang saya tidak tahu jawabannya.
Berlanjut ke
dunia kerja, hampir mirip kejadiannya. Waktu masih jadi anak baru, harus
pinter-pinter memposisikan diri sebagai orang yang mau belajar, suka bertanya
ke teman-teman yang lebih senior supaya saya gak kelabakan menyelesaikan
pekerjaan. Pernah juga pada suatu titik merasa sudah paling bisa. Thank God,
saya dapat assignment baru. Tepat ketika saya merasa sudah berada di zona
nyaman di role saya sebelumnya. Udah gak bisa lagi merasa sombong, karena di
assignment baru ini saya seperti mulai dari nol lagi. Setelah setahun
menjalaninya, rasa-rasa sombong itu mulai muncul lagi. Saat itu jugalah dapat
kesempatan diskusi seperti yang saya ceritakan di awal. Sombong itu attitude
yang gak disukai. Gak hanya di dunia kerja, di manapun juga. Sombong bisa
menyulitkan kita sendiri karena kita jadi gak bisa dengar pendapat orang dan
menutup diri. Wawasan gak terbuka, wajar saja kalau sebentar kemudian kita akan
‘jatuh’.
Jadi, mari sama-sama punya attitude yang rendah
hati. Gak mudah, tapi pasti bisa kalau selalu sadar diri.
Subscribe to:
Posts (Atom)