Emang ya,
kalau segala hal yang kita nikmati sehari-hari kita anggap biasa aja, jadi lupa
bersyukur. Coba kalau mau diabsen, gak usah banyak-banyak, sebutkan 10 hal aja
yang kita syukuri setiap hari. Gampang? Susah? Menurut saya, sangat tergantung
dari cara pandang kita.
Saya sendiri
pernah mengalaminya ketika 4 minggu masa pemulihan dari operasi. Waktu itu,
badan saya harus pakai semacam ‘kemben’ setiap hari supaya bekas operasi tidak
kena air dan bisa kembali seperti semula. Then,
banyak sekali rutinitas sehari-hari – yang dulunya tidak terpikirkan bahwa bisa
disyukuri – yang tidak bisa dilakukan seperti biasa.
Mulai dari
bernafas. Biasanya bisa bernafas dengan normal. Ketika pakai kemben yang
sengaja dililitkan agak kencang itu, nafas tidak bisa panjang. Tarik sedikit,
buang, tarik sedikit, buang. Efeknya jadi tidak berani jalan cepat-cepat
apalagi lari. Selain membuat bekas operasinya jadi perih, juga karena takut ngos-ngosan karena susah bernafas.
Yang kedua,
posisi tidur. Biasanya bisa tidur telentang, miring, tengkurap, sesuai nyamannya
saja yang membuat tidur nyenyak. Waktu masa pemulihan, tidak ada pilihan posisi
tidur. Hanya telentang, saja. Memeluk guling pun tidak bisa. Efeknya jadi
sering terbangun malam hari mengingatkan diri sendiri untuk tidak ganti posisi,
menjaga badan supaya tetap telentang.
Yang ketiga,
mandi. Biasanya air disiram ke seluruh badan. Waktu pemulihan, tidak bisa siram
air sembarangan, bisanya mandi pakai washlap yang sudah dibasahi air hangat.
Setiap hari. Kadang-kadang mandi harus dibantu Ibu saya untuk menjangkau bagian
punggung yang susah digapai tangan sendiri. Lebih repot lagi kalau mau keramas.
Biasanya bisa keramas sekalian mandi. Waktu pemulihan, keramas paling nyaman
adalah di salon supaya bagian kepalanya saja yang basah. Efeknya, money comes out sesuai jadwal keramas
karena musti ke salon.
Yang keempat,
pemilihan pakaian. Tidak semua pakaian bisa saya pakai waktu masa pemulihan.
Kaos-kaos yang pas badan jadi tidak nyaman dipakai karena membuat lebih mudah
berkeringat akibat harus selalu pakai kemben yang lumayan tebal. Jadi, tingkat
kemodisan berkurang karena hanya bisa pakai baju-baju model ‘gombrong’.
Setelah
melewati masa pemulihan, saya disadarkan bahwa saya bisa melakukan rutinitas
saya lagi setelah sekitar 4 minggu mengalami seperti yang saya ceritakan di
atas. Senang dan bersyukur sekali rasanya. Saya jadi sangat menikmati bernafas
panjang, tidur gonta-ganti posisi sehingga lebih nyenyak, mandi puas plus
keramas sendiri di rumah, dan memilih pakaian apa saja sesuai event dan
keinginan hati.
Bersyukur itu tidak perlu menunggu sesuatu yang
besar terjadi datang ke hidup kita bagai mendapatkan durian runtuh.
Karunia-karunia kecil yang Tuhan berikan setiap hari sudah bisa membuat kita
bersyukur luar biasa.