Tuesday, 25 December 2012

Be humble or be humbled

Beberapa hari yang lalu adalah masa-masa penilaian kerja tahunan di tempat saya bekerja. Setiap anak buah mendapat kesempatan untuk diskusi dengan atasan masing-masing, membahas kinerja anak buah selama setahun. Begitu juga dengan saya. Saya tidak akan menceritakan detail isi diskusi kami. Saya mau fokus ke satu value yang bos saya ajarkan ke saya. Attitude.
Satu kalimatnya yang saya ingat, “Mau sepinter-pinternya orang, kalau attitude-nya nggak baik, itu akan jadi nila setitik buat dia.” Bos saya bilang begitu ketika kami membahas salah seorang rekan kerja yang sudah cukup berpengalaman dan berwawasan, orang yang saya kagumi karena banyak banget pengetahuannya. Namun sayangnya, rekan saya ini cenderung menjadi merasa paling tahu sehingga sulit menerima ide/usulan baru yang beda sama pendapatnya. Lebih disayangkan lagi, beliau memberi pengaruh negatif ke orang lain dengan mencela sistem baru yang kami semua hasilkan. Padahal seharusnya kami-kami inilah agent of change-nya.
Ya, memang waktu itu kita sedang bahas orang lain. Tapi, something changes my mind. Kata-kata itu saya ingat terus supaya nggak terjadi juga dalam kehidupan saya. Attitude sombong atau angkuh itu gampang banget dilakukannya. Bahkan, kalau kita sedang merasa di atas angin, tanpa kita sadari kita jadi sombong. Merasa semuanya bisa kita atasi. Well, saya sering juga mengalami ini. Senang benar rasanya ketika jadi yang paling tahu. Terbukti dengan kemampuan saya untuk bisa menyelesaikan berbagai case, terbukti juga dengan kemampuan saya menjawab pertanyaan dari rekan lain.
Setiap saya merasa ‘di atas’, saat itulah Tuhan selalu mengingatkan saya lewat berbagai cara. Banyak contohnya. Misalnya waktu sekolah dulu. Saya suka sekali pelajaran matematika. Karena itulah, beberapa kali nilai saya lebih baik dibanding teman-teman sekelas. Lagi ngerasa sombong-sombongnya, ternyata pada suatu ujian ada teman saya yang nilainya lebih bagus. Rasanya seperti dijatuhkan ke jurang karena sombongnya saya membuat saya jadi malas belajar.
Saya bersyukur waktu jaman kelas 3 sma dulu, saya dapat kesempatan satu kelas dengan banyak teman yang pintar. Saya diajarkan untuk rendah hati dan gak malu bertanya ke teman tentang suatu tugas kalau memang saya tidak tahu jawabannya.
Berlanjut ke dunia kerja, hampir mirip kejadiannya. Waktu masih jadi anak baru, harus pinter-pinter memposisikan diri sebagai orang yang mau belajar, suka bertanya ke teman-teman yang lebih senior supaya saya gak kelabakan menyelesaikan pekerjaan. Pernah juga pada suatu titik merasa sudah paling bisa. Thank God, saya dapat assignment baru. Tepat ketika saya merasa sudah berada di zona nyaman di role saya sebelumnya. Udah gak bisa lagi merasa sombong, karena di assignment baru ini saya seperti mulai dari nol lagi. Setelah setahun menjalaninya, rasa-rasa sombong itu mulai muncul lagi. Saat itu jugalah dapat kesempatan diskusi seperti yang saya ceritakan di awal. Sombong itu attitude yang gak disukai. Gak hanya di dunia kerja, di manapun juga. Sombong bisa menyulitkan kita sendiri karena kita jadi gak bisa dengar pendapat orang dan menutup diri. Wawasan gak terbuka, wajar saja kalau sebentar kemudian kita akan ‘jatuh’.
Jadi, mari sama-sama punya attitude yang rendah hati. Gak mudah, tapi pasti bisa kalau selalu sadar diri.

No comments:

Post a Comment