Beberapa hari
yang lalu adalah masa-masa penilaian kerja tahunan di tempat saya bekerja.
Setiap anak buah mendapat kesempatan untuk diskusi dengan atasan masing-masing,
membahas kinerja anak buah selama setahun. Begitu juga dengan saya. Saya tidak
akan menceritakan detail isi diskusi kami. Saya mau fokus ke satu value yang
bos saya ajarkan ke saya. Attitude.
Satu
kalimatnya yang saya ingat, “Mau sepinter-pinternya orang, kalau attitude-nya
nggak baik, itu akan jadi nila setitik buat dia.” Bos saya bilang begitu ketika
kami membahas salah seorang rekan kerja yang sudah cukup berpengalaman dan
berwawasan, orang yang saya kagumi karena banyak banget pengetahuannya. Namun
sayangnya, rekan saya ini cenderung menjadi merasa paling tahu sehingga sulit menerima
ide/usulan baru yang beda sama pendapatnya. Lebih disayangkan lagi, beliau
memberi pengaruh negatif ke orang lain dengan mencela sistem baru yang kami
semua hasilkan. Padahal seharusnya kami-kami inilah agent of change-nya.
Ya, memang
waktu itu kita sedang bahas orang lain. Tapi, something changes my mind.
Kata-kata itu saya ingat terus supaya nggak terjadi juga dalam kehidupan saya.
Attitude sombong atau angkuh itu gampang banget dilakukannya. Bahkan, kalau
kita sedang merasa di atas angin, tanpa kita sadari kita jadi sombong. Merasa
semuanya bisa kita atasi. Well, saya sering juga mengalami ini. Senang benar
rasanya ketika jadi yang paling tahu. Terbukti dengan kemampuan saya untuk bisa
menyelesaikan berbagai case, terbukti juga dengan kemampuan saya menjawab
pertanyaan dari rekan lain.
Setiap saya
merasa ‘di atas’, saat itulah Tuhan selalu mengingatkan saya lewat berbagai
cara. Banyak contohnya. Misalnya waktu sekolah dulu. Saya suka sekali pelajaran
matematika. Karena itulah, beberapa kali nilai saya lebih baik dibanding
teman-teman sekelas. Lagi ngerasa sombong-sombongnya, ternyata pada suatu ujian
ada teman saya yang nilainya lebih bagus. Rasanya seperti dijatuhkan ke jurang
karena sombongnya saya membuat saya jadi malas belajar.
Saya bersyukur
waktu jaman kelas 3 sma dulu, saya dapat kesempatan satu kelas dengan banyak
teman yang pintar. Saya diajarkan untuk rendah hati dan gak malu bertanya ke
teman tentang suatu tugas kalau memang saya tidak tahu jawabannya.
Berlanjut ke
dunia kerja, hampir mirip kejadiannya. Waktu masih jadi anak baru, harus
pinter-pinter memposisikan diri sebagai orang yang mau belajar, suka bertanya
ke teman-teman yang lebih senior supaya saya gak kelabakan menyelesaikan
pekerjaan. Pernah juga pada suatu titik merasa sudah paling bisa. Thank God,
saya dapat assignment baru. Tepat ketika saya merasa sudah berada di zona
nyaman di role saya sebelumnya. Udah gak bisa lagi merasa sombong, karena di
assignment baru ini saya seperti mulai dari nol lagi. Setelah setahun
menjalaninya, rasa-rasa sombong itu mulai muncul lagi. Saat itu jugalah dapat
kesempatan diskusi seperti yang saya ceritakan di awal. Sombong itu attitude
yang gak disukai. Gak hanya di dunia kerja, di manapun juga. Sombong bisa
menyulitkan kita sendiri karena kita jadi gak bisa dengar pendapat orang dan
menutup diri. Wawasan gak terbuka, wajar saja kalau sebentar kemudian kita akan
‘jatuh’.
Jadi, mari sama-sama punya attitude yang rendah
hati. Gak mudah, tapi pasti bisa kalau selalu sadar diri.
No comments:
Post a Comment